

Imlek adalah rangkaian perayaan tahun baru, tetapi Cap Go Meh merupa-kan bagian dari Imlek itu sendiri. Sebab, Cap Go Meh menandakan akhir dari rangkaian perayaan, yakni hari ke-15,”
Perayaannya diawali dengan berdoa di vihara atau klenteng, kemudian di-lanjutkan dengan iringan kenong dan simbal serta pertunjukan barongsai dan pertunjukan tradisional masyarakat setempat.
Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkien. Cap artinya sepuluh, Go artinya lima, dan Meh artinya malam. Sehingga, secara istilah arti Cap Go Meh adalah malam kelima belas dari bulan pertama.
Lampion menjadi simbol keberuntungan bagi masyarakat yang merayakan Cap Go Meh. Sementara warna merah yang terdapat pada lampion, bermakna kemakmuran, kebahagiaan, kesatuan, rezeki, dan kesejahteraan. Sehingga, memasang lampion pada saat Cap Go Meh dipercaya dapat memberi jalan untuk rezeki

Beberapa makanan khas Cap Go Meh adalah lontong Cap Go Meh, jeruk mandarin, kue keranjang (Nian Gao), hingga wedang ronde.
Biasanya di saat hari ini tiba, orang Indonesia yang merupakan keturunan Tionghoa akan merayakan festival ini juga sama; kumpul bersama keluarga, sembahyang, dan membuat ronde. Dalam merayakannya, ada dua macam ronde yang biasanya dibuat untuk menjadi makanan khas festival ini: Ronde yang tanpa isi dan ronde yang berisi berbagai bahan seperti kacang tanah, kacang hitam, dan wijen. Kalau kalian lebih memilih ronde yang versi mana, nih? Sepertinya yang versi mana pun itu tetap terasa sangat lezat, ya! Wedang Ronde dapat dinikmati di Pringsewu Baturraden. Sajian wedang Ronde pas dinikmati di udara segar kaki Gunung Slamet. Info klik
Lampion menjadi simbol keberuntungan bagi masyarakat yang merayakan Cap Go Meh. Sementara warna merah yang terdapat pada lampion, bermakna kemakmuran, kebahagiaan, kesatuan, rezeki, dan kesejahteraan. Sehingga, memasang lampion pada saat Cap Go Meh dipercaya dapat memberi jalan untuk rezeki