Makanan Bebas Bahan Pengawet dan Berbahaya

PT Pringsewu Cemerlang > Produksi > Seputar Produksi > Makanan Bebas Bahan Pengawet dan Berbahaya

Dalam perkembangan jaman manusia banyak melakukan inovasi untuk meningkatkan kualitas hidupnya, beberapa orang melakukan inovasi ke olahan pangan agar olahan pangan menjadi lebih awet dan tahan lama. Akan tetapi karena semakin banyak yang mengetahui  cara mengawetkan bahan pangan mempunyai manfaat yang sangat besar bagi penjual dan pedagang, mulai muncul penjual – penjual nakal yang mengolah bahan pangan dengan bahan pengawet yang di larang pemerintah atau tidak mempunyai legalitas yang jelas dalam pengolahanya, karena itu kita perlu waspada dan berhati” membeli semua jenis olahan baik bahan basah, kering, kemasan dan kalengan.

Pringsewu sendiri selalu mengutamakan mutu dan kualitas dan selalu menggunakan bahan” yang segar atau baru agar konsumen bisa puas ketika perkunjung dan makan di Pringsewu, Pringsewu juga bekerja sama dengan Supplier-supplier yang sudah mempunyai nama di mata Nasional dan juga untuk bahan-bahan freshnya Pringsewu mempunyai Supplier yang sudah memiliki standar dan memiliki Sertifikat yang di akui pemerintah (MUI).

Karena itu sebelum mengonsumsi makanan baik bahan fresh, atau kemasan kita perlu melakukan dan  memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1.
Uji Bau
Bau itu alami. Setiap produk panganan menghasilkan bau khas. Biasanya bau ini diperoleh dari tempat panganan tersebut berasal. Misalnya saja : Ikan basah : jika beli ikan dipasar apabila masih segar pasti ada bau-bau amisnya lah. Dari jauh memang tidak tercium bau tersebut akan tetapi coba dekatkan ke hidung anda : pasti terasa amisnya. NB : Jika tidak tercium amisnya pasti ikannya sudah lama di frezzer atau jika tercium bau yang tidak jelas agak menyengat : itu dikasih formalin >> hati-hati.
Tahu & Tempe juga punya bau khas (bau kedelai). Apabila tahu yang anda beli dipasar tidak berbau sama-sekali : pantas dicurigai. Atau apabila yang tercium bau menyengat (bila didekatkan ke hidung) – pengawet itu.
2.
Uji Rasa
Hampir semua bahan kimia meninggalakan rasa pahit dipangkal lidah setelah ditelan. Semanis dan seenak apapun makanan, jika saat ditelan masih meninggalakan rasa pahit pasti telah ditambahkan bahan kimia (pemanis buatan ).
3.
Uji Warna
BIasanya warna dengan tekstur terang menyala adalah ciri khas pewarna tekstil. Hati-hati pewarna makanan tidak secerah itu. Misalnya ini dalam produk kue dan roti.Warna tidak rata (menyatu) dengan sempurna alias ada gumpalan, jejas atau goroesan yang warnanya lebih padat dari bagian lain.  UJI TISSUE – misalnya kue: celup kue tersebut dalam air (1 detik) lalu angkat dan letakkan diatas tissue (Jangan ditekan). Jika warna kue tersebut merembes kedalam tissue, atinya itu warna tidak menyatu dengan kue karena pewarna yang digunakan bukan pewarna makanan melainkan pewarna tekstil (bahan kimia berbahaya).  Penambahan pewarna tekstil juga membuat daya tahan makanan dari kuman lebih lama artinya tetap awet dan tidak berbau setelah dibiarkan diruangan terbuka (uji kuman).

4. Uji (Ke) Makhluk Hidup Lain
Mahkluk hidup yang dimaksud disini adalah makhluk hidup yang memiliki indra lebih tajam dari manusia.
Ikan basah : dikasih ke kucing. Jika kucing mau melahapnya, artinya ikan tersebut bebas dari bahan kimia berbahaya.
Demikian juga dengan gula-gula (candy). Lempar ke sarang semut atau letakkan saja bawah lantai, jika semut menghampiri dan rame-rame berkerumun disekitar panganan artinya menggunakan gula asli. Akan tetapi jika semut hanya mampir saja kemudian meninggalkan panganan tersebut artinya panganan tersebut mengandung gula buatan.

5. Uji Mikroorganisme
Ini adalah uji yang paling efektif hanya membutuhkan waktu lama (24 jam untuk mengetahuinya).  Semua bahan kimia yang ditambahkan dalam makanan akan menghambat pertumbuhan bakteri (misalnya pengawet, pewarna, pewangi) artinya keawetan makanan semakin lama.  Semua produk panganan pasti mengandung Mikroorganisme didalamnya atau disekitarnya. Mikroorganisme inilah yang cepat atau lambat akan teraktifasi (hidup) dan memetabolis produk panganan tersebut. Peran bahan kimia mengeblok (menghambat) metabolisme tersebut sehingga tidak terjadi kerukan pada bahan panganan dimaksud.

Keberadaan bahan kimia berbahaya dalam panganan dapat didetaksi dari keberadaan kuman yang diamati lewat lamanya waktu pembusukan. Misalnya saja, kita menguji suatu bahan pangan basah (tahu, mie basah). Letakkan pada tempat terbuka tanpa pelindung. Biarkan selama 24 jam. Jika tidak menimbulkan perubahan maka produk tersebut mengandung bahan kimia. Perubahan yang dimaksudkan adalah perubahan bau (berbau tidak sedap) yang paling cepat dan yang agak lambat adalah perubahan bentuk (membusuk).

‘’Uji makanan sebelum makanan merumahkanmu’’

Semoga Bermanfaat…

About Company

Hadir sejak tahun 1987 dari kota kecil di kaki gunung Slamet bagian selatan, tepatnya di kota Purwokerto resto Pringgading sebagai cabang pertama.