
kita berangkat dari Jakarta Selatan pagi pagi saat langit masih abu abu. Jalan di sekitar Fatmawati belum ramai, udara cukup adem, dan warung kopi baru saja buka. kita memilih rute yang paling sederhana saja supaya tidak banyak berhenti di dalam kota. Dari kawasan Antasari kita mengarah ke Jalan Lingkar Luar Jakarta di koridor TB Simatupang, lalu terus meluncur ke simpang Cikunir. Jalurnya jelas, petunjuknya rapi, dan rasanya seperti menggeser peta perlahan dari selatan ke timur tanpa perlu masuk ke tengah kota yang sering bikin laju tersendat.
Di Cikunir kita masuk ke Tol Jakarta Cikampek. Dari sini ada dua pilihan jalur, bawah yang biasa atau jalan layang MBZ. kita lihat kondisi lalu lintas di papan informasi, bawah mulai padat, cuaca cerah, angin tidak kencang. kita putuskan naik ke jalan layang. Di atas sana mobil bisa melaju lebih rata, tidak banyak rem mendadak, dan kita bisa menjaga putaran mesin supaya tetap tenang. Ini kebiasaan kecil yang ternyata terasa di kantong. Kalau kecepatan stabil, bahan bakar pun lebih hemat. kita tidak ngebut, cukup menjaga laju yang nyaman, sambil menyalakan musik pelan biar mata tetap segar.
Turun dari jalur layang, kita melewati kawasan Dawuan lalu mengarah ke Gerbang Cikampek Utama. Setelah itu masuk ke Tol Cipali yang terkenal panjang dan lurus. Banyak orang menyebut tol ini sebagai koridor meditasi. Pemandangan kiri kanan berganti pelan, jarak pandang jauh, dan kita bisa fokus menjaga ritme. kita manfaatkan segmen ini untuk benar benar merapikan posisi duduk, jaga jarak aman, dan sesekali meregangkan bahu. Di lajur ini, hal kecil seperti tekanan ban yang pas dan muatan kabin yang tidak berlebihan ikut membantu mobil melaju ringan.
Banyak teman sering menanyakan soal konsumsi bahan bakar untuk rute ini. Kalau start dari Jakarta Selatan menuju Cirebon lewat jalur lingkar luar, lalu Jakarta Cikampek, lanjut Cipali, kemudian masuk Palikanci, jaraknya kira kira dua ratus tiga puluh lima kilometer tergantung titik awal dan keluarnya. Untuk mobil bensin dengan mesin sekitar seribu lima ratus, jika gaya mengemudi santai di tol, biasanya bisa dapat sekitar lima belas kilometer per liter. Artinya bensin yang dihabiskan sekali jalan berada di kisaran enam belas liter. Untuk mobil keluarga yang efisiensinya sedang, sekitar tiga belas kilometer per liter, kebutuhan berada di rentang delapan belas liter. Sementara untuk mesin dua ribu dengan efisiensi sebelas kilometer per liter, perkiraan berada di kisaran dua puluh satu liter. Angka ini bukan patokan mutlak, tapi cukup memberi gambar besar. Kuncinya tetap sama, jaga kecepatan konstan, hindari injakan gas yang mendadak, dan pastikan ban tidak kempis.

Begitu memasuki Palimanan, rasanya seperti membuka bab baru. Dari sini perjalanan beralih ke Tol Palikanci yang mengantar kita mendekati Cirebon. Perut mulai memberi kode, punggung minta diluruskan, dan kepala perlu jeda. Di sinilah kita memutuskan untuk singgah di Restoran Pringsewu Palikanci 207. Aksesnya enak, papan petunjuk jelas, dan tempatnya mudah dikenali. Parkirnya lapang, cocok untuk keluarga, rombongan kecil, sampai bus pariwisata. Begitu turun, angin Cirebon menyapa dengan hangat. Di dalam, ruang makan terasa lega, bangku tersusun rapi, dan suasana bersih tanpa banyak ribut.
kita duduk di dekat jendela. Pilihan menunya akrab di lidah. kita pesan sop iga yang hangat, ayam kremes yang renyah, dan sayur asem untuk menambah segar. Sambil menunggu, kita melihat anak anak dari meja sebelah tertawa kecil, sementara rombongan di ujung lain baru datang dan berbagi tugas, ada yang ke mushola, ada yang ke toilet. Hal hal sederhana seperti mushola yang bersih dan toilet yang terawat terasa sangat berarti di rute panjang. Pelayanannya juga sigap, jadi makan tidak butuh waktu terlalu lama. Kalau datang dengan rombongan, enaknya mengirim pesan dulu untuk menyebut jumlah orang dan perkiraan jam datang. Biasanya meja bisa disiapkan, sehingga kita tinggal duduk, pesan, dan makan tanpa banyak menunggu.
Makanan datang, uap sop iga menari pelan, dan suara kremes dari kulit ayam membuat lapar terasa punya kawan. kita makan tanpa buru buru. Minuman hangat membantu bahu lebih rileks, dan tubuh terasa kembali utuh. Di sela sela itu kita mengecek rencana berikutnya. Dari Palikanci ke pusat kota Cirebon tidak jauh. Jika semua lancar, kita bisa sampai sesuai jadwal tanpa perlu memaksa laju. Ini enaknya punya satu jeda yang benar benar berfungsi. Bukannya berhenti hanya untuk beli camilan, tapi benar benar istirahat, makan yang layak, dan menata ulang energi.
Selesai makan, kita membeli camilan untuk dibawa, singkong keju dan risoles yang ringan. kita sempat bercakap sebentar dengan petugas di depan. Mereka bercerita, akhir pekan biasanya lebih ramai, jadi kalau ada rencana datang dengan keluarga besar, kabar lebih dulu akan sangat membantu, sebelum menyalakan mesin, kita meregangkan kaki sebentar, merapikan posisi duduk, dan memastikan semua indikator normal. Jalan kembali terasa seperti lembar terakhir dari sebuah bab, tenang dan jelas.
Dari Palikanci menuju Cirebon, kita menjaga laju yang santai. Mata menatap rambu, tangan mantap di kemudi, dan pikiran jernih. Kalau diminta memilih waktu berangkat yang nyaman, kita cenderung memilih pagi buta saat kota belum ramai atau malam ketika suasana lebih lengang. Pagi membantu sampai lebih cepat dengan kepala segar. Malam memberi jalur yang biasanya lebih lapang, asalkan stamina dijaga dan pencahayaan baik. Di dua waktu itu, konsumsi Pertamax juga cenderung lebih bersahabat karena kecepatan lebih stabil.
Menjelang masuk kota Cirebon, kita merasakan alasan kenapa singgah di tempat yang pas itu penting. Kita bukan hanya mengisi perut, tapi juga menyelaraskan ritme. Di rute panjang, pelayanan yang ramah, kursi yang nyaman, dan makanan hangat bisa mengubah sisa perjalanan menjadi lebih fokus dan aman. Jika suatu hari kamu melewati rute yang sama, pola sederhana ini patut dicoba. Susun rencana dari Jakarta Selatan menuju lingkar luar, sambung ke Jakarta Cikampek, lanjut Cipali, lalu Palikanci, dan sisihkan waktu untuk singgah sejenak di Pringsewu Palikanci 207. Setelah itu, Cirebon menyambut tanpa drama, dan urusanmu di kota udang itu terasa lebih ringan karena tubuh dan kepala sudah kembali selaras.
1. Jakarta → TB Simatupang → JORR arah timur → Cikunir.
2. Cikunir → Tol Jakarta Cikampek. Pertimbangkan MBZ jika bawah padat.
3. Dawuan → Cikampek Utama → Tol Cipali (lurus dan stabil).
4. Palimanan → Palikanci → singgah di Pringsewu Palikanci 207 → lanjut Cirebon.
Jarak total kurang lebih 235 kilometer. Dengan gaya mengemudi santai dan kecepatan stabil di tol:
Hasil akhirnya dipengaruhi muatan, angin, tekanan ban, dan cara mengemudi. Kuncinya jaga kecepatan konstan, hindari gas-rem mendadak, dan pastikan tekanan ban sesuai anjuran.
Parkir luas, ruang makan lega, mushola dan toilet bersih, dan menu yang akrab di lidah. Sop iga hangat, ayam kremes renyah, sayur asem segar, camilan seperti singkong keju dan risoles. Rehat 30–45 menit sudah cukup untuk bikin badan balik fokus sampai Cirebon.